jln. Pala No. 4B Beji Timur Depok 16422 Telp/Fax : +6221-77206987 SMS : +62813-8543-0505
Agenda Acara Kobam

  • CUCI GUDANG KOBAM DI ISLAMIC BOOK FAIR 2010
  • Masup Jakarta

  • « Resensi KOMPAS | Home | Resensi Menjernihkan Sejarah Sosial Politik Batak »

    Resensi Mengenai Masup Jakarta

    By komunitas bambu | January 8, 2009

    Kompas Edisi Pustakaloka 20 Agustus 2007
    Penerbit Masup Jakarta dan Jakarta Tempo Doeloe

    Ingin tahu banyak soal bagaimana kehidupan masyarakat Jakarta tempo doeloe? Baca saja buku-buku terbitan Masup Jakarta. Dari namanya saja sudah tergambar makna yang ingin disampaikan oleh penerbit Masup Jakarta. Kata masup adalah ungkapan khas penghuni asli Jakarta alias orang Betawi yang berarti masuk. Masup Jakarta semacam pelokalan dari inside yang sudah populer dalam dunia penerbitan mengenai suatu tempat, seperti Inside Marocco, Inside Paris, Inside London dll. Seperti namanya penerbit kecil Masup Jakarta pun kalau mau mengunjungginya pun mestimasuk sudut Kampung Beji, Kota Depok, tepatnya bersebelahan dengan Kampus Universitas Indonesia. Namun tentu bagi penggemar bacaan dan dunia tempo doeloe Betawi-Jakarta tentu tidak akan merasa menyesal mesti harus masup kampung untuk menyambangi penerbit ini karena memang mengkhususkan diri dalam penerbitan buku-buku tentang Betawi-Jakarta.

    Kendati usianya terbilang muda, saat ini penerbit Masup Jakarta sudah mulai dilirik kalangan pencinta buku. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya pengunjung yang datang dan membeli buku-buku di stand Masup Jakarta dalam Pesta Buku Jakarta yang diadakan Ikapi Jaya bulan Juni lalu.

    “Kami kan baru pertama kali ikut book fair. Kami hanya punya beberapa gelintir buku, tetapi dari omong-omong, pendapatan kami beda tipis dengan penerbit yang sudah mapan dan banyak judulnya. Orang memang beli buku Masup Jakarta macam beli kacang goreng, padahal harga buku Masup itu di atas rata-rata, aneh betul. Baru mengalami orang begitu antusias untuk mengetahui sejarah kotanya, perkembangan baru yang menggembirakan tentunya,” ungkap Jj rizal, pendiri sekaligus motor penerbit Masup Jakarta.

    Penerbit Masup Jakarta lahir 14 Februari 2006, pas hari ulang tahun salah satu tokoh Jakarta paling tersohor, MH Thamrin. Buku yang pertama kali diterbitkan kala itu Gambang Jakarte kumpulan sketsa Betawi-Jakarta karya Firman Muntaco, Juni tahun itu juga.

    Keputusan Rizal untuk membuat penerbitan yang khusus menggarap buku-buku tentang Jakarta ternyata tepat dan cukup beralasan. Ada tiga alasan yang diungkap oleh Rizal mengapa memutuskan mendirikan Masup Jakarta. Pertama, sebagai seorang yang punya latar belakang pendidikan sejarah dan kebetulan juga orang Betawi asli, Rizal sudah sejak lama senang dan menggeluti masalah-masalah tentang Jakarta.

    “Saya senang Jakarta karena masalahnya kompleks, sejarahnya unik, juga budaya, tradisi, dan masyarakatnya, benar-benar suatu kota dengan sejarah yang dijalin rajut dengan benang kaya warna dan motif yang mengagumkan,” ujarnya.

    Kecintaan Rizal menggeluti masalah Jakarta ataupun Jakarta tempo doeloe dituangkan dalam berbagai artikel dan kolom yang ditulisnya di berbagai media massa, baik di dalam maupun luar negeri dan beberapa telah pula dibukukan.

    Alasan yang kedua, pasar buku-buku tentang Jakarta saat ini ada dan sangat potensial. “Saya menyadari potensi itu setelah melihat penjualan salahsatu buku Komunitas Bambu (Kobam) yang paling laris, Batavia Awal Abad 20, buku terjemahan karya HCC Clockener Brousson. Lantas melihat juga dari pengalaman seringnya saya diundang untuk omong tentang Jakarta dan antusiasme peserta untuk mengetahui hal-ihwal kotanya dan betapa mereka merasa sulit untuk mendapatkan buku-buku tetang Jakarta, terutama sejarahnya. Lagi pula bukankah sekarang ini juga banyak sekali acara-acara jalan-jalan menyusuri kota tua, seperti ‘Plesiran Tempo Dulu’ atau acara ‘Mengenal Kota Tua’, dll. Ternyata, kelompok ini besar dan banyak serta haus informasi ihwal Jakarta yang ironisnya terkadang oleh para pemandu-pemandu acara jalan-jalannya itu malah disajikan informasi yang boleh disebut ngawur. Tentu kelompok-kelompok itu tidak sepenuhnya dapat disalahkan sebab memang mereka kesulitan sumber. Nah, ada idealisme menyediakan informasi sejarah yang tepat, selain bahwa mereka itu rata-rata dari kelas menengah yang tergolong ekonomi mampu. Ini kan pasar yang sudah jelas,” paparnya.

    Jelas ada kegairahan untuk mengenal Jakarta tempo dulu dan ini ternyata juga terjadi di negeri Belanda. Dari pengalamannya selama lebih kurang lima tahun menulis kolom mengenai Jakarta tempo dulu di majalah kaum Indo Moesson yang terbit di negeri Belanda, Rizal mememang melihat gairah untuk mengenal tempo doeloe kota kita memang terlambat ketimbang masyarakat di negeri Kincir Angin, terutama mereka yang memiliki darah keturunan Indonesia atau kaum Indo, menguat rasa untuk lebih mengenal berbagai hal tentang Indonesia; terutama seluk-beluk Jakarta tempo dulu. Tetapi tentu saja bila sekarang semangat itu tumbuh, seharusnyalah ada institusi pendukungnya agar menempuh rel yang tepat, salahsatunya tentu penerbitan.

    Bagi Rizal, yang terakhir itu lebih bersifat misi idealis sebab mengemban misi menyediakan informasi yang mampu menguak sejarah-budaya Jakarta dan dari sana akan diketahui yang dsiebut sebagai ientitas kota budaya Jakarta. Ironisnya adalah, menurut Rizal, selama dia meneliti mengenai masalah kota Jakarta, belum ada satu pun pemerintah daerah yang punya kesadaran seperti mantan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, yaitu bahwa kota itu harus memiliki dan penting identitas sejarah-budaya.

    “Bagaimana cara kita mengenal identitas sejarah-budaya Jakarta? Ya, harus banyak literatur tentang budaya dan sejarah Jakarta. Identitas budaya Jakarta itu seperti apa sih? Sekarang kan, enggak jelas,” kata Rizal. Dari situ, mulailah Rizal menggarap buku-buku tentang Jakarta agar masyarakat kota Jakarta mengetahui sejarah-budaya kota yang dihuninya.

    Romantisme masa lalu

    Soal apa kriteria buku terbitan Masup Jakarta gampang saja. Sesuai dengan maksud dan tujuan pendiriannya. “Istilah Masup Jakarta atau ‘masuk Jakarta’ memang dimaksudkan sebagai inside Jakarta atau segala hal yang ada di dalam Kota Jakarta. Jadi, kriteria buku Masup Jakarta itu sederhana. Kalau enggak tentang Jakarta, ya tidak masup,” ucap Rizal.

    Buku-buku Masup Jakarta, kendati dijual dengan harga di atas harga normal, nyatanya tetap diburu orang. Buku Gambang Jakarte, misalnya, dijual dengan harga Rp 54.000, padahal di pasaran normalnya Rp 40.000. Dicetak 3.000 kopi dan habis dalam tempo singkat.

    “Buku Keadaan Jakarta Tempo Doeloe karya Tio Tek Hong lebih aneh lagi. Enggak pernah ada resensinya di koran, bukunya kecil, tebalnya enggak sampai 150 halaman, kami jual Rp 30.000, tetapi tiap bulan selalu repeat order,” tuturnya.

    Salah satu yang diyakini menjadi daya tarik buku-buku terbitan Masup Jakarta adalah penggunaan foto-foto lama pendukung teks (photographic memories). “Kami mencoba menjembatani masyarakat yang tengah merangkak di dunia membaca, tetapi masih ogah meninggalkan budaya menonton. Mungkin dengan melihat foto, selain membaca teks, orang merasa seperti memasuki lorong waktu untuk mengingat masa lalu mereka,” ungkap Rizal.

    Romantisme dan nostalgia inilah yang memang sengaja dibangkitkan oleh Rizal lewat buku-buku terbitan Masup. Membaca buku Gambang Jakarte, misalnya, membuat orang yang dulu pernah tinggal di Jakarta atau mereka yang pernah singgah untuk satu waktu yang cukup lama pada zaman ketika ditulis akan merasa kondisi riil di Jakarta. adi seperti diputar lagi ingatan akan masa lalu Jakarta. Demikianlah, cerpen-cerpen Firman juga buku Tio Tek Hong bisa juga menjadi panduan orang sebelum pergi ke Jakarta.

    “Jadi, kalau kamu mau ke Jakarta, ya, seperti inilah yang akan dihadapi. Ya, susahnya, ya persoalan kemiskinannya, gaya hidup masayarakatnya, perayaan-perayaannya seperti Imlek dan Lebaran, sampai copetnya. Persoalan-persoalan itu betul-betul menceritakan kehidupan riil masyarakat kelas bawah di Jakarta yang tidak ada di buku pemerintah daerah atau katalogus kota Jakarta,” papar Rizal.

    Adik kandung Kobam

    Ditilik dari sejarahnya, kemunculan penerbit Masup Jakarta tidak terlepas dari Komunitas Bambu (Kobam). Bisa dikatakan, Masup Jakarta adalah adik kandung dari Kobam.

    Komunitas Bambu awalnya memang sebuah komunitas. Mulai berdiri pada 20 Mei 1998, saat krisis berbarengan dengan reformasi. Kami mulai diskusi di berbagai tempat di sekitar kampus (UI) dan melibatkan teman-teman dari macam-macam jurusan. Kami ngundang orang, terus biasanya kami rekam. Daripada hanya jadi abab atau menguap saja, maka kami dokumentasikan dalam bentuk buku-buku kecil. Termasuk dalam hal ini beberapa sajak-sajak kami sendiri yang dibacakan dibeberapa kesempatan yang tumbuh bersama gerakan reformasi. Jadi, penerbitan itu awalnya memang hanya sampingan,” tuturnya.

    Karena hanya sampingan, penerbitan buku-buku tersebut tidak pernah dikelola dengan serius sehingga peredarannya pun tidak begitu luas. “Terdokumentasi di perpustakaan-perpustakaan aja kami sudah puas. Saat itu pula kami juga mengalami penipuan berkali-kali oleh orang yang mengaku distributor, tetapi kemudian barulah kami ketahui bahwa itu pemasok buku untuk lapak buku obral murah Pasar Senen,” ujar Rizal.

    Saat itu buku terbitan Komunitas Bambu telah banyak pula. Sudah terbit buku-buku, seperti Soeharto karya Bagus Takwin dkk, Sumpah Pemuda karangan Keith Foulcher, dan Mengikis Batas Timur dan Barat: Gerakan Theosofi dan Nasionalisme Indonesia karya Iskandar P Nugraha. Buku-buku yang diterbitkan Kobam umumnya adalah buku-buku tentang Indonesia, terutama sastra dan sejarah Indonesia.

    Kendati Masup Jakarta hadir lebih belakangan ketimbang Kobam, sekarang justru lebih bisa diandalkan perkembangannya daripada Kobam. Dalam sebulan, buku Masup terbit rata-rata dua hingga tiga buku, sedangkan Kobam hanya menerbitkan satu buku.

    “Saya pikir, memang saat ini Masup bisa jadi lokomotif ke depan agar Kobam bisa tetap hidup. Soalnya, bagaimanapun orang sudah punya image tentang Kobam. Mungkin hanya kemunculan bukunya saja yang agak diperjarang, sebulan atau dua bulan cuman satu, tetapi bukunya yang pilihan, yang bagus,” kata Rizal.

    Demikianlah, Masup Jakarta memang boleh tergolong gurem, tetapi keberaniannya menerbitkan buku-buku bertema khusus (Jakarta) ternyata memberi harapan untuk terus berkembang dan dicari orang. Seperti orang Betawi bilang: kagak ade matinye!

    Jj rizal Ingin Mengubah Citra Orang Betawi

    Ada satu hal yang hingga kini masih menjadi ganjalan, keprihatinan, juga kejengkelan sekaligus pendorong bagi seorang Jj rizal sehingga ia begitu bersemangat dan setia menulis dan menerbitkan buku-buku tentang Jakarta. Dilahirkan dari keluarga Betawi tulen, Rizal ingin mengubah citra orang Betawi di mata masyarakat menjadi lebih baik.

    “Kebetulan saya orang Betawi. Saya sebenarnya ada sedikit kemarahan, ketidaksenangan terhadap pencitraan terhadap orang Betawi selama ini. Kan, belakangan ini banyak organisasi-organisasi jago yang mengatasnamakan warga Betawi dan bikin keributan-keributan yang banyak diekspos media. Padahal itu bukan Betawi, profitur Betawi saja namun getahnya orang Betawi yang nanggung. Jadilah, seolah-olah citra orang Betawi itu hanya sebatas tulang pukul, tukang kepruk, seolah-olah dalam sejarah budaya Betawi tidak pernah lahir tokoh intelek, dan inilah yang terdengar begitu sering begitu sampai pada titik pembahasan Betawi. Ini bikin pedes lecet kuping,” ungkap Rizal.

    Menurut Rizal ini perlu dikoreksi dan diperbaiki. Salah satu caranya adalah dengan menerbitkan sebanyak mungkin sesuatu mengenai Betawi juga perkaitannya dengan Jakarta dan masyarakat urbannya yang menyejarah itu, sehingga semua orang bisa tahu dan mengerti bukan saja bahwa dalam sejarah budaya Betawi juga dilahirkan tokoh-tokoh intelek, seperti MH Thamrin, Ismail Marzuki, Abdurahman Saleh, Firman Muntaco, SM Ardan, dan Abdul Chaer. Tetapi juga hal ihwal dunia Betawi dan Jakarta yang menyejarah. “Nah, kami juga baru dapat naskah dari Belanda tentang kehidupan dunia hitam di Batavia abad 19 dan 20, salahsatunya mengulas biografi Si Pitung. Dia adalah tokoh riil yang menarik untuk diperkenalkan karena tidak sekadar sebagai tokoh jago maen pukulan lokal Jakarta, tetapi juga ada perkaitannya dengan tokoh-tokoh awal pergerakan nasional di kota Batavia. Ini bukan saja akan menarik tetapi juga memberikan pemahaman sejarah baru dan mematahkan mitos bahwa Si Pitung itu jago silat belaka, ia tokoh yang lebih dari seorang tukang maen pukulan” kata Rizal.

    Pria lajang kelahiran Tanjung Duren, Jakarta Barat, 12 Februari 1975 ini ternyata baru bisa membaca sewaktu di kelas III SD. “Saya dulu umur dua bulan sudah diambil oleh kakekku yang seorang bandar ikan. Nenek saya seorang penjahit terkenal karena bisa menjahit baju tanpa mengukur. Namanya sama kakek-nenenk, ya terlalu dimanja dan saya pun malas belajar, maunya menggambar saja. Akibatnya sampai kelas III SD belum bisa baca. Mau belajar membaca dan kemudian bisa juga setelah diancam akan diturunkan dari kelas tiga ke kelas satu,” urai Rizal.

    Nah, ketika mulai bisa membaca kakeknya mulai mengalami sulitnya mencari daun jati untuk bungkus ikan. Sebagai pengganti daun jati, kakeknya terpaksa mencari koran atau majalah-majalah bekas. Koran-koran lama dan majalah-majalah bekas yang dikumpulkan kakeknya itulah yang menjadi bacaan sehari-hari Rizal. “Belakangan saya baru sadar, bacaan itu yang bikin saya senang pada sejarah sejak mulai bisa membaca dan sampai sekarang,” ungkap Rizal.

    Oleh karena itulah, setamat SMA ia kemudian memutuskan untuk mengambil kuliah di Jurusan Sejarah Universitas Indonesia. Selepas kuliah ia sempat berkeinginan menjadi wartawan. Ia mendapat beasiswa pelatihan Jurnalistik Investigatif di LPDS Dr. Soetomo dan setelah digojlok disana ia merasa sadar bahwa kerja wartawan yang benar itu berat, penuh ancaman bahaya, sedang ia secara fisik kecil dan tidak cukup kuat. Diurungkanlah niatnya jadi wartawan. Ia kemudian mulai menulis artikel tentang Jakarta tempo dulu dan hubungannya dengan kekinian di sebuah koran kota di Jakarta. “Sebulan sampai dua hingga tiga kali dimuat,” tutur Rizal.

    Karena seringnya menulis artikel tentang Jakarta, akhirnya Rizal ditawari menulis kolom tentang Jakarta, baik di sebuah majalah mingguan nasional maupun majalah Moesson Het Indisch Maandblad yang terbit di negeri Belanda dan beredar secara internasional mengikuti diaspora para orang indo di seluruh dunia.

    SociBook del.icio.us Digg Facebook Google Yahoo Buzz StumbleUpon

    Topics: Uncategorized |

    Comments


    Copyrigth @ bm.anggara, design by tokofun.com