Reggie Baay, Cucu Seorang Nyai

Diposting : 24 Desember 2010

“Ini pertanyaan personal,” kata seorang audiens dari Yayasan Kertagama kepada Reggie Baay. “Bagaimana perasaan Anda sebagai indo cucu seorang nyai?”

 

Diskusi buku Nyai dan Pergundikan di Indonesia di Gedung Budaya Betari Jl. Ampera, mempertemukan aku dengan penulisnya, Reggie Baay. Ia novelis berkebangsaan Belanda, dalam perhelatan itu menggunakan bahasa Inggris dengan moderator Lita Soerjadinata dari Goodreads Indonesia. Acara yang berlangsung hari Sabtu 18 Desember, sejak pukul 15:30, dihadiri sekitar 20 orang berjalan intens. Fokus. Mendalam. Karib. Mengesankan.

 

Mengesankan bagiku, terutama. Mengapa? Walau hanya sedikit ngobrol, baik sebelum acara maupun sesudah diskusi, ada harapan yang singgah. Pertama, saat memintanya menera tanda tangan di halaman judul bukunya, ia merasa mengenal namaku. Kedua, ia merasa pernah membaca cerpenku. Lalu ia menanyakan apakah aku pernah mengikuti Festival Winternachten di Belanda. Tentu kukatakan: belum. Tapi kusampaikan bahwa aku pernah mengikuti festival sejenis di Teater Utan Kayu. Nah, agaknya namaku diingatnya dari situ. Pertanyaan yang kusangka iseng darinya adalah: “Maukah diundang ke Festival Winternachten?”

 

Buku tentang praktik perkawinan lelaki Belanda dengan perempuan pribumi di masa kolonial itu, ditulis dengan riset sepanjang 15 tahun. Istri pribumi itu awalnya bisa dari seorang pembantu yang melayani kebutuhan rumah tangga sampai diperlukan sebagai teman tidur. Di masa itu, wanita pribumi yang kemudian melahirkan anak-anak indo disebut dengan istilah “nyai”. Nenek Reggie adalah seorang nyai. Namun ketika Reggie mulai menggagas untuk menulis buku pergundikan itu, tidak mendapatkan narasumber yang sekaligus menjadi ikhwalnya. Nenek dan ayahnya sudah meninggal. Dan untuk mencari akar dirinya ternyata tak mudah.

 

Terbitnya buku itu di Belanda sekitar dua tahun lalu, menimbulkan pro dan kontra. Namun justru membuat buku itu laris. Kini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Komunitas Bambu (Kobam). Menurutku, buku ini cukup penting, karena mengungkap sisi “terang dan gelap” mengenai pergundikan di Indonesia. Reggie juga menyinggung tentang dua orang nyai tersohor yang ada dalam “legenda” Indonesia, yakni: Nyai Dasima dan Nyai Ontosoroh.

 

Di antara yang hadir ada juga indo Perancis yang merasa malu dengan jati dirinya, ada seorang profesor dan peminat sejarah, penggiat pembela perempuan, wartawan, dan novelis Ayu Utami bersama Erik Prasetya. Pertanyaan yang dilontarkan meliputi legalitas dan posisi anak-anak indo keturunan nyai yang kini tinggal di Belanda, juga mengenai tujuan diadakannya kompetisi putri kecantikan yang mensyaratkan ada darah Indonesia mengalir dalam tubuhnya. Ada apa gerangan?

 

Kembali kepada pertanyaan terakhir yang menjadi awal tulisan ini, Reggie sempat terdiam sejenak. Tentu ia ingin memberikan jawaban yang paling tepat. “Kita tidak dapat menghapus atau menolak masa lalu. Jadi saya tidak merasa malu. Justru saya menuliskannya dalam buku ini, untuk berbagi informasi dan pengalaman.”

 

Diskusi ditutup dengan book signing. Lebih 30-an buku terjual petang itu termasuk pesanan dari yang tak sempat hadir. Seperti yang kujanjikan pada perbincangan awal, aku memberi  Reggie dua buah buku yang kebetulan kubawa. Senapan Cinta dan Burung Kolibri Merah Dadu. Keduanya kumpulan cerpen. Saat menyerahkan kepadanya, lengkap dengan tanda tanganku, kutunjukkan kepadanya biodata yang menyebutkan bahwa aku mengikuti Biennale Literary Festival di Utan Kayu tahun 2005.

 

“Nah saya ikut tahun lalu, 2009” katanya sumringah.

 

“Bersama Iksaka Banu?” tanyaku. Dan ia membenarkan. Aku menyampaikan fakta:  “He’s my best friend.”

 

Dan Reggie menitipkan salam untuk Banu. Sebelum aku meninggalkan dia yang masih sibuk menandatangani bukunya, ia minta nomor kontak dan alamat email. “Saya dengan senang hati ingin mengundang Anda ke Festival Winternachten.”

Aku tidak ingin membayangkan lebih jauh, apakah akan jadi kenyataan. Namun demikian aku senang. Sangat senang.

 

Kurnia Effendi

<< Kembali